16 Pelukis Terkenal di Indonesia yang Sangat Legendaris (Part 1)

hasil karya pelukis Indonesia

Dunia seni rupa seolah dijadikan sebagai sarana mengekspresikan diri, hal ini terbukti dengan seniman yang bisa memberi suatu pesan dalam luapan kanvas. Mau jadi seorang pelukis? Pelukis bisa dibilang gampang-gampang susah, tapi tidak untuk mereka para pelukis Maestro yang sempat menitik karirnya dengan karyanya.

Pelukis Indonesia tidak kalah dengan pelukis International kok, setiap pelukis memiliki khas tersendiri dan inilah yang membuat mereka dikenal oleh seluruh penjuru Indonesia bahkan sebagian dari mereka mengalahkan pelukis-pelukis International saat ajang pameran, siapakah pelukis-pelukis tersebut? Baca lebih lanjut

16 Pelukis Terkenal di Indonesia (part 1):

1. Abdullah Suriosubroto

Abdullah Suriosubroto

Abdullah Suriosubroto

Abdullah Suriosubroto lahir di Semarang tahun 1878 dan meninggal di Yogyakarta tahun 1941. Anak angkat dari Dr. Wahidin Sudrohusodo yang waktu itu seorang tokoh gerakan nasional Indonesia.

Abdullah adalah pelukis pertama di Indonesia pada abad ke-20, ia sempat meneruskan jejak ayahnya dan kuliah di kedokteran di Batavia yang sekarang dikenal Jakarta, namun ketika ia kuliah di Belanda seketika itu ia beralih profesi ke seni lukis. Kok bisa ya?

Ia dikenal menyukai pemandangan, dan sempat ke Bandung untuk menikmati pemandangan alam kota Bandung walau akhirnya memutuskan meneruskan perjalanan hidupnya ke Yogyakarta dan meninggal disana. Aliran seninya dikenal dengan julukan Mooi Indie. Dari karya-karyanya, ia sangat suka melukis pemandangan alam dengan sudut pandang yang luas. Kalau dari lukisannya sepertinya mirip aliran naturalisme ya? Setuju ga?

Hasil karya Abdullah Suriosubroto : Bamboo Woods dan lain-lain.

2. Affandi Koesoema

Affandi Koesoema

Affandi Koesoema

Affandi Koesoema lahir di Cirebon pada tahun 1907 dan meninggal pada tahun 1990. Wow,,, keren ya umurnya. Dimata dunia Affandi sosok pelukis yang sangat rendah hati, ia mengganggap dirinya tukang lukis bukan pelukis, baginya melukis adalah kerjaan.

Uniknya, jalan fikirannya sangat sederhana sampai pada suatu saat ketika ada kritisi Barat menanyakan aliran lukisan yang dibuat Affandi. Affandi malah berbalik tanya tentang aliran-aliran lukisan. Ia tidak menunjukan kejeniusannya, tapi orang-orang menilainya sebagai Maestro, hasil karyanya pun mencapai 2000 karya. Fantastis!!!

Bagaimana ia melukis?

Cara melukisnya pun sangat lucu, ia tidak melukis seperti para pelukis umumnya, ia tidak menggunakan kuas. Hanya menumpahkan cat-cat berwarna kedalam lukisannya yang membuat kesan pertama sangat amburadul, namun setelah itu ia menyikat warna-warna cat tersebut dengan jarinya.

Hasil karya Affandi Koesoema : Kebun Cengkeh, Ayam tarung, Perahu dan Matahari, Sis Cut Sunflowers, Barong & Leak, Andong Jogja, Jatayu, Kepala Kuda dan lain-lain.

Baca juga : 10 Lukisan Paling Terkenal di Dunia Yang Sangat Fenomenal

3. Barli Sasmitawinata

hasil lukisan karya Barli Sasmitawinata

hasil lukisan karya Barli Sasmitawinata

Barli Sasmitawinata lahir tanggal 18 Maret 1921-8 Februari 2007. Dalam perjalanan hidupnya, ia mulai menekuni dunia seni lukis di tahun 1930-an saat kakak iparnya meminta ia belajar melukis di studio milik Jos Pluimentz, pelukis Belgia yang sempat tinggal di Bandung. Setelah belajar dari Jos Pluimentz, ia melanjutkan pendidikan seninya di Eropa salah duanya : pendidikannya di Academie de la Grande Chaumiere, paris pada tahun 1950 dan Rijksakademie van beeldende kunsten, Amsterdam Belanda di tahun 1956.

Barli sosok pelukis yang mementingkan pendidikan seni, maka ia pun mendirikan Sanggar Rangga Gempol di Dago, Bandung.

Hasil karya Barli Sasmitawinata : Affandi dengan Istri Pulang Melukis Pohon Apel, Fruit Saller, Ibu Tani, Bobotoh, Pasar, Dua Wanita, Gadis, Pantai Nude, Penari Kebyar, Penari Kipas 2 dan lain-lain.

4. Basuki Abdullah

hasil lukisan Basuki Abdullah

hasil lukisan Basuki Abdullah

Basuki Abdullah lahir pada tanggal 27 Januari 1915 di Surakarta, Jawa Tengah dan meninggal pada tanggal 5 November 1993. Termasuk salah satu pelukis Maestro Indonesia dengan alirannya realis dan naturalis. Jiwa seninya tertanam dari bakat ayahnya yaitu Abdullah Suriosubroto.

Pada saat masa pemerintahaan Jepang, Basuki masuk ke dalam gerakan Poetra dan ditugasnya untuk mengajar seni lukis ke murid-muridnya, selain itu Basuki juga aktif di kebudayaan Jepang saat itu.

Ketika di Belanda ia berhasil mengalahkan 87 pelukis di Eropa dan menjadi pemenang. Wow, bangga ya beliau telah mengharumkan Indonesia. Selain itu ia sering kali berkeliling Eropa seperti Itali dan Prancis dimana banyak pelukis di negara sana.

Basuki terkenal dengan pelukis potret yang dapat melukis wajah cantik wanita, terkadang lukisannya lebih indah dibanding wajah aslinya. Pendidikan seninya tidak sia-sia, hingga akhirnya pada tahun 1974 beliau menetap di Jakarta untuk diangkat sebagai pelukis Istana Merdeka.

Hasil karyanya : Dr. Ir. Soekarno, Ibu dan Anak, Upacara Pembakaran Jenazah di Bali, Wanita Spanyol, Nyai Roro Kidul, Jaka Tarub, Peperangan Antara Gatotkaca dengan Antasena, Anak Nakal, dan lain-lain.

5. Delsy Syamsumar

Delsy Syamsumar - Sentot Alibasya P

Delsy Syamsumar – Sentot Alibasya P

Pelukis terkenal di Indonesia lainnya adalah Delsy Syamsumar lahir pada tanggal 7 Mei 1935 di Medan dan meninggal tanggal 21 Juni 2001 di Jakarta. Adalah seorang pelukis beraliran Neoklasik, bakat melukisnya terlihat sejak berusia 5 tahun.

Waktu masa perang revolusi, keluarganya memutuskan untuk pindah ke Sumatra dimana ia di sekolahkan hingga SMU dan mendapatkan pendidikan agama Islam. Disinilah bakatnya terlihat, ia sering mendapatkan rangking pertama untuk pelajaran seni lukis.

Saat usianya 17 tahun, ia membuat komik Sejarah dan dikirim ke majalah Aneka yang membuat nama Delsy terkenal di seluruh penjuru Indonesia. Pada saat itu Delsy di panggil ke Jakarta oleh penerbit dengan menyediakan fasilitas yang cukup, sehingga membuat ibunya Delsy rela melepas anaknya dengan kepastian tunjangan fasilitas yang diterima Delsy.

Dalam membuat lukisan, Delsy terkenal sangat mahir, hal ini terlihat ketika ia melukis sosok wanita, dengan sangat ekspresif dan gerakan-gerakan tubuhnya seolah menyampaikan suatu pesan. Menurutnya anatomi wanita bagai medan yang kuat. Tidak heran jika lukisannya menjadi salah satu lukisan termahal diantara pelukis lainnya.

Hasil karyanya : Komik berjudul si Semut, Sentot Alibasya Prawiradirdja, Gadjah Mada, Christina Maria Tiahahu, Heroisme Cut Mutia, Kereta Api terakhir Yogyakarta, Dapur Umum dan lain-lain.

6. Hendra Gunawan

fruit seller hasil karya Hendra Gunawan

fruit seller hasil karya Hendra Gunawan

Hendra Gunawan lahir pada tanggal 11 Juni 1918 di Bandung dan meninggal pada tanggal 17 Juli 1983 di Bali. Anak dari Raden Pawiranegara dan Raden Odah Tejaningsih.

Bakat melukisnya terlihat sejak masih SD, hal ini ditunjukan dari kemampuan ia melukis benda-benda disekitar seperti buah-buahan, wayang golek, bunga dan lain-lain. Dan setelah ia menginjak ke SMP, ia mulai menekuni dunia lukis dengan menggambarkan pemandangan.

Asal muasalnya ia berkenalan dengan Wahdi Sumanta dan Abdullah Suriosubroto kemudian bertemu dengan Affandi, Sudarso dan Barli. Dari Wahdi ia dikenali dengan banyak ilmu tentang melukis, namun ternyata tidak hanya melukis bahkan Hendra mengikut serta ke dalam kelompok sandiwara Sunda. Pengalaman demi pengalaman ia lalui untuk mengasah kemampuannya.

Saat pertemuan dengan Affandi Sang Maestro, niatnya menjadi pelukis semakin besar. Ia mulai memberanikan diri untuk melukis dan berkarya. Tapi bukan berarti ia tidak berani berkarya lho, hanya saja… pertemuan dengan Affandi membuat sebuah fase besar bagi hidupnya, baginya sosok Affandi sangat inspiratif dan motivator. Cintanya terhadap seni tidak hanya ia tumpahkan pada sebuah kuas, namun ia membentuk Sanggar Pusaka Sunda di tahun 1940.

Karya Lukis Hendra Gunawan : Bisikan Iblis, Sketsa, Perempuan Menjual Ayam, Pasar dipinggir Laut, Jual Beli dipasar dan lain-lain.

7. Henk Ngantung

kepasar hasil karya Henk Ngantung

kepasar hasil karya Henk Ngantung

Henk Ngantung yang bernama lengkap Hendrik Hermanus Joel Ngantung lahir pada tanggal 1 Maret 1921 di Manado dan meninggal pada tanggal 12 Desember 1991. Seorang pelukis Indonesia dan juga salah satu Wakil Gubernur pada periode 1960-1964, hingga menjadi Gubernur Jakarta periode 1964-1965.

Kisah karirnya, sebelum menjabati posisi Gubernur, ia adalah pelukis, belajar dari pendidikan non formal bersama Chairil Anwar dan Asrul Sani.

Sejarah kehidupannya cukup rumit, ia ditunjuk oleh Presiden Soekarno menjadi Gubernur guna mengubah Jakarta sebagai kota Budaya, namun Henk Ngantung tidak berhasil mengubah itu semua. Setelah lepas dari masa jabatan kehidupan Henk Ngantung hidup dalam kemiskinan dan tinggal di perkampungan. Yang lebih miris lagi, ia memiliki penyakit jantung dan glaukoma.

Walaupun begitu, semangatnya untuk melukis tidak sirna. Hingga akhirnya pada tahun 1980-an ia melukis dengan wajah nyaris dekat dengan kanvas. Dalam semasa hidupnya, ia belum membuat pameran seni, namun pengusaha Ciputra mensponsorinya untuk mengadakan pameran lukis untuk pertama dan juga terakhir.

Karya lukisannya yang berjudul “Digiring Ke Kandang” menjadi lukisan terbaik pada tahun 1942.

Hasil karya Henk Ngantung : Gajah Mada, Memanah, Mengungsi, Dua Gadis Memakai Caping, Gadis Toraja, Pantai Tanah Lot-Bali, Pemandangan Laut, Perahu-Perahu di Pantai, Pesisir dan lain-lain.

Baca juga : Legenda Dibalik Gunung Tangkuban Perahu

8. I.B. Said

rumah nelayan hasil karya I.B. Said

rumah nelayan hasil karya I.B. Said

Pelukis ternama Indonesia berikutnya adalah I.B. Said, lahir pada tanggal 28 Agustus 1934.

Pelukis ini ditunjuk oleh Presiden Soekarno untuk melukis wajah tamu-tamu negara yang berkunjung ke Indonesia, hingga akhirnya ia melukis 300 wajah. Tamu pertama yang ia lukis adalah Presiden Tiongkok bernama Liu Shoaqi di tahun 1963 dan yang terkahir adalah tamu negara Presiden Iran bernama Mamoud Ahmadinejad pada tahun 2006.

Nama I.B. Said sudah sangat terkenal dikalangan seniman. Sampai usia 74 jasanya masih digunakan di Istana Negara.

Berawal dari usul Henk Ngantung yang saat itu berada di posisi jabatan sebagai Gubernur memiliki gagasan bahwa pelukis harus diajak aktivitas kenegaraan. Disaat itulah beberapa para pelukis terlibat untuk melukis wajah tamu negara termasuk I.B. Said. Yang kemudian lukisannya dipajang di Istana terkadang ada beberapa tamu minta dibawa pulang.

Saat pemerintahan Bung Karno, para pelukis tidak kurang dari 20 orang dan membuat 10 foto untuk dipasang di titik-titik strategis yang akan terlihat oleh tamu negara, terkadang di titik yang tidak dilewati tamu juga.

Hasil Karya I.B. Said : Segitiga Senen Tinggal Kenangan dan wajah-wajah tamu negara mulai dari Josip Broz Tito, Ronald Reagan, Xanana Gusmao, Ferdinand Marcos, dan lain-lain.

 

Share Yuk :

4 comments

Leave a Reply to alvina Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *